TOP NEWS

Sabtu, 29 Maret 2014

Sadarlah, Kita Ini Pemimpin!

Home
Kalau bicara soal pemimpin, pasti sebagian besar dari kita akan berpikir soal dunia politik yang belakangan ini sering di bahas di televisi itu. Nggak heran sih, karena memang mereka yang berkecimpung di dunia politik itu bisa dibilang "berprofesi" sebagai pemimpin. Padahal yang disebut dengan pemimpin itu bukan cuma mereka aja loh, banyak contoh-contoh orang disekitar kita yang bisa kita sebut sebagai pemimpin.

Contoh yang paling dekat adalah orang tua kita sendiri, dimana mereka adalah pemimpin bagi keluarga atau anak-anaknya (itu artinya termasuk kita juga). Terus ada juga guru atau dosen yang merupakan pemimpin bagi murid dan mahasiswa, dimana mereka bertanggung jawab untuk membimbing anak didiknya agar menjadi lebih baik. Yups memimpin berarti memegang tanggung jawab, dimana setiap orang pasti punya tanggung jawab atas dirinya sendiri yang artinya setiap individu itu pada dasarnya adalah seorang pemimpin.
Iya, pemimpin atas dirinya sendiri..

Tapi tidak semua orang itu bisa jadi pemimpin bagi orang lain loh! Kenapa? Karena tidak semua orang punya kemampuan untuk mengemban tanggung jawab besar. Iya, tanggung jawab atas diri sendiri saja bisa dibilang sudah cukup berat apalagi mau bertanggung jawab atas orang lain?

Banyak orang memimpikan punya posisi tinggi sebagai bos di suatu perusahaan misalnya, tapi apa mereka tau bahwa semakin tinggi jabatan yang di duduki semakin besar pula tanggung jawabnya? Karena seorang "atasan" itu sudah tentu akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan juga bawahan yang dipimpinnya. Maka jangan heran kalau para karyawan selalu kena marah bos gara-gara kurang disiplin atau kerjanya kurang beres.
Hayoo ngaku siapa yang sering gak disiplin ama kerjaannya?

Hihihi..

Nah kalau kamu adalah salah satu orang yang ingin menjadi seorang pemimpin, setidaknya kamu harus mulai belajar untuk memimpin diri sendiri dulu agar nantinya kamu akan lebih siap untuk mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Tapi kalaupun kamu bukan orang yang demikian, kamu tetap harus memiliki lima poin penting untuk menjadi seorang pemimpin yang baik karena mau tidak mau kita juga harus tetap memimpin diri kita sendiri toh?
Apalagi kita ini generasi penerus, jadi pasti akan ada salah satu diantara kita yang akan menjadi pemimpin nantinya.

Karena kalau bukan kita yang memimpin, siapa lagi coba?

Jadi kita harus mempersiapkan diri kita untuk menjadi pemimpin yang baik, minimal untuk diri kita sendiri agar hidup kita "terarah" alias punya tujuan.

Iya ya.. Terus apa aja poin penting untuk jadi pemimpin yang baik itu min?

Oke kita langsung ke poinnya aja ya, cekidot!

1. Disiplin

Disiplin disini dalam arti kita harus mampu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang seharusnya kita lakukan. Kita ambil contoh seorang pedagang. Kalau dia mau sukses dari usaha dagangnya, hal yang harus dilakukannya adalah konsisten (disiplin) dalam berdagang setiap hari agar bisa mendapatkan penghasilan yang nantinya akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depannya. Tapi kalau ternyata dia malas (tidak disiplin) untuk berdagang setiap hari, pastinya dia akan kesulitan donk dalam mencari penghasilan untuk kebutuhan sehari-harinya?!
Buat sehari-hari aja sulit, apalagi buat nabung? Kapan bisa suksesnya coba?

Yaiyalah gimana mau sukses atau kaya, lha wong kerja (jualan) aja dia gak mau?!

Iya, disiplin itu identik dengan rajin dimana sikap ini adalah satu faktor penting untuk menjadi pemimpin khususnya untuk memimpin diri sendiri. Bagaimana mau memimpin orang lain kalau untuk kebutuhannya sendiri saja dia ogah-ogahan alias tidak disiplin? Dan kita tidak akan bisa membuat diri kita menjadi lebih baik kalau kita tidak mau menerapkan kedisiplinan untuk membuang hal-hal buruk yang ada pada diri kita. Nah kalau sikap disiplin sudah dimiliki, sekarang kita lanjut ke poin nomor 2.

2. Mampu Bersikap Bijak dan Mengendalikan Ego

Mereka yang egois alias hanya mementingkan kepentingannya sendiri sudah pasti bukanlah calon pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik selalu mempertimbangkan keputusan apa saja yang kira-kira baik bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk siapa saja yang dipimpinnya. Kita ambil contoh seorang pengusaha kayu ilegal. Ia mencari hutan yang masih banyak pohonnya untuk ditebangi kemudian dijual hanya semata-mata untuk keuntungannya sendiri. Padahal dengan ditebangnya (dirusak) pohon-pohon yang ada di hutan bisa berdampak buruk bagi alam sekitar.

Penyerapan air hujan yang tidak maksimal sehingga menyebabkan banjir dan juga bencana kekeringan ketika musim kemarau karena air di dalam tanah yang akan menguap dengan mudah. Ujung-ujungnya siapa yang akan rugi? Tentu saja orang lain yang hidup disekitarnya. Nah jika kita dipimpin oleh orang yang demikian (egois, mementingkan keuntungan bagi diri sendiri), akan seperti apa jadinya orang-orang yang dipimpinnya? Bukan tidak mungkin kan kita akan di "eksploitasi" juga demi keuntungannya sendiri?

Padahal kita tidak akan bisa hidup sendiri di dunia ini, kita butuh "teman" untuk saling membantu. Dan orang yang egois tentulah tidak akan disukai oleh orang lain kecuali "ada maunya" *if you know what i mean*. Pada akhirnya jika kita terlalu menuruti sikap egois tersebut, hidup kita tidak akan tenang dibuatnya. Masih dengan contoh pengusaha kayu tadi. Ketika sudah banyak orang dirugikan karena sikapnya, ia tentu akan dicari-cari oleh orang yang merasa dirugikan untuk "dihakimi" yang artinya hidupnya tidak akan jauh dari masalah.
Makanya kalau gak mau punya banyak masalah, buang jauh-jauh deh sikap egois dari hidupmu!

3. Mau Melakukan Perubahan Pada Diri

Mereka yang mau menjadi lebih baik dalam hal apapun tentu harus mau untuk melakukan perubahan pada dirinya. Berubah untuk membuang semua sifat dan sikap buruk serta mengoreksi diri untuk memperbaiki kesalahannya. Iya, tanpa mau merubah sikap bagaimana bisa kita merubah nasib atau keadaan kita menjadi lebih baik? Kita ambil contoh masyarakat di kota besar. Mereka ingin lingkungan mereka bebas banjir dan bersih dari sampah yang berserakan. Tapi bagaimana hal itu bisa terwujud jika pada kenyataannya mereka masih saja membuang sampah seenak jidat di tempat yang tidak semestinya (seperti di sungai misalnya)? Malas untuk mencari tempat sampah adalah faktor yang paling umum mengapa mereka tetap membuang sampah di sembarang tempat.

Padahal jika saja mereka mau melakukan perubahan yakni melawan rasa malas pada dirinya, bukan tidak mungkin lingkungan yang bersih dan bebas banjir bisa mereka dapatkan. Karena semua hal yang besar berawal dari hal yang kecil, dan tentu saja perubahan yang besar juga berawal dari perubahan yang kecil (yakni perubahan pada diri kita sendiri). Hal ini juga tidak lepas dari sikap egois yang sudah saya tuliskan sebelumnya, dimana mereka berpikiran bahwa "ah yang jadi kotor bukan tempat tinggal kita ini". Padahal dampak yang dihasilkan itu sangatlah besar dimana nantinya kita juga yang akan kena batunya!

Dan untuk bisa merubah diri kita (untuk menjadi lebih baik) tentulah dibutuhkan sebuah kemauan, dimana kemauan inilah yang berperan sebagai pemimpin terkuat dalam diri kita sendiri. Lalu jika kemauan tersebut dipadukan dengan sikap disiplin, maka perubahan yang tadinya dianggap berat atau tidak mungkin perlahan akan menjadi kenyataan.

4. Berani

Eits, berani disini bukan berarti berani untuk tawuran atau melakukan hal gak penting lainnya loh ya! Bukan! 

Berani disini maksudnya adalah berani mengambil keputusan atau tindakan yang diperlukan. Sikap berani juga merupakan salah satu faktor penting dalam melakukan perubahan karena jika ada sedikit saja keraguan untuk mengambil suatu keputusan maka proses menuju perubahan pasti akan terhambat, bahkan mungkin tidak terjadi sama sekali karena kurangnya keberanian dalam mengambil keputusan tersebut. Kita ambil contoh seorang pedagang mie ayam keliling. Ia sudah memiliki cukup modal untuk menyewa sebuah tempat untuk berjualan.

Namun karena ia takut jika nanti keuntungan yang didapatnya tidak bisa mengembalikan modalnya maka ia memutuskan untuk tidak jadi menyewa tempat dan lebih memilih untuk membeli motor baru dari modal tersebut. Padahal ia berpeluang untuk bisa membeli sesuatu yang lebih dari sekedar motor. Iya, peluang itu ada jika ia berani berubah untuk "menjadi besar" dan mencoba keluar dari zona nyaman dengan menyewa sebuah tempat untuk berjualan. Sama halnya dengan keberanian untuk mengambil sikap lebih disiplin agar bisa merubah nasib seperti yang sudah saya tuliskan pada poin nomor satu diatas.
Tapi inget ya, keberanian aja gak cukup untuk merubah nasib kita. Dibutuhkan kecermatan dan ketepatan juga untuk meminimalisir kemungkinan gagal nantinya..

5. Tegas

Disiplin belum tentu tegas, tapi tegas sudah pasti disiplin! Bijak belum tentu tegas, tapi tegas sudah pasti bijak! Orang yang berani belum tentu punya sikap tegas, namun orang yang bersikap tegas sudah pasti berani! Tanpa ketegasan kita tidak akan mampu untuk menerapkan kedisiplinan, tanpa ketegasan kita tidak akan mampu mengambil sebuah keputusan yang bijak, dan tanpa ketegasan kita tidak akan berani mengambil sikap untuk melakukan perubahan.

Jadi memang kelima poin yang saya sebutkan diatas memiliki keterkaitan satu sama lain, dimana jika salah satunya tidak kita miliki maka kita belum bisa menjadi seorang pemimpin yang baik. Namun kita tetap dapat melatih kepemimpinan itu dengan menerapkan poin-poin yang sudah saya sebut diatas. Memang, untuk melakukannya tidaklah semudah saya menuliskan artikel ini. Tapi kapan kita akan bisa menjadi seorang pemimpin yang baik jika kita tidak bersikap tegas untuk berani memulai perubahan itu dari sekarang?

Sadarlah, kita ini pemimpin! Pemimpin bagi diri kita, dimana tentu saja kita akan memiliki tujuan hidup masing-masing. Dan kita tidak akan bisa mencapainya jika kita hanya berdiam diri, menyerah dengan keadaan tanpa adanya ketegasan untuk berani bergerak melawan keterbatasan! Dan jika seandainya kita sudah mampu memimpin diri kita dengan baik maka pasti tidak akan sulit bagi kita untuk memberikan contoh yang baik sebagai pemimpin di masa mendatang agar dapat ditiru dan mewujudkan sebuah perubahan dalam skala yang lebih besar. Sekali lagi, perubahan yang besar berawal dari perubahan yang kecil. Maka mulailah untuk melatih kepemimpinan dari sekarang agar kita bisa mewujudkan hal besar di tengah-tengah keterbatasan kita.
Melatih diri untuk memimpin diri sendiri sebelum nantinya menjadi pemimpin di masa mendatang..!!
Diposkan oleh Pandu Dryad 0

Kamis, 20 Februari 2014

Prepare To Jogjakardah! Part II

Home
Prepare To Jogjakardah! Part II - Nerusin cerita yang kemaren yaa. Dengan segala keterbatasan karena kebodohanku itu aku tetep maksain buat berangkat ke Kota Gudeg bareng temenku beberapa hari lagi. Tapi kali ini motivasiku untuk kesana sudah beda, bukan karena d’bening lagi karena dia sudah wisuda dan kembali ke Bali dimana ortunya tinggal. Yups, sepertinya aku sudah mulai bisa move on dari dia dan saat ini aku justru lebih nyaman single.
Bukan jomblo ya pemirsah, tapi SINGLE! Beda loh!

Aku pengen kesana karena beberapa tekanan yang aku alami di lingkunganku saat ini, di tempatku tinggal. Jadi aku sekarang ini tinggal sama om dan tanteku. Si om ini selalu aja minta aku buat nyari kerja biar “nggak ndik omah ae” (nggak di rumah aja). Padahal aku ini kan blogger, dan bisa kerja dimana aja. Emang kerja itu harus jadi karyawan ya? Nggak donk! Nah dari situ aku ngerasa tertekan dan aku selalu diperlakukan layaknya pengangguran! Walhasil karena tekanan itu aku jadi ngerasa gak enak dan kurang maksimal buat garap blog yang aku kelola, maka aku putuskan buat pergi jauh dimana mereka gak bisa menjangkau aku lagi sekaligus pengen nunjukin ke mereka kalo kerja itu gak harus jadi karyawan karena memang aku gak suka jadi karyawan! Sombong ya?
Biarin! Hahahaha!

Dan Jogja jadi pilihanku karena emang dari dulu aku pengen banget kesana. Niatku buat kesana bukan Cuma karena alasan yang aku sebut itu aja, tapi ada beberapa alasan lain. Aku pengen hidup mandiri, biar aku gak terus-terusan ngerepotin ortu atau siapapun termasuk om dan tante ku itu meskipun aku tau yang bakal aku hadapi nanti adalah dunia yang keras, dunia yang sesungguhnya. Selain itu aku pengen cari guru ngaji juga disana karena jujur aja sampe sekarang aku gak bisa ngaji karena dulu aku males-malesan.
Hehehe jadi malu :P

Tadi aku udah packing-packing gitu meskipun berangkatnya masih beberapa hari lagi (posting ini dibuat beberapa hari sebelum ku publish). Tapi ya mumpung tadi koneksi internet lagi ngadat, yaudah mendingan packing aja daripada gak ngapa-ngapain. Dan waktu packing itu aku ngalamin beberapa flashback gitu deh. Jadi tiap barang yang ku ambil itu kaya punya ceritanya masing-masing gitu. Mirip di pilem-pilem lah! Dan aku juga jadi teringat masa kecilku, dimana waktu itu pikiran dan hidupku gak serumit sekarang, dan dimana aku berharap banget buat cepet dewasa. Aku juga jadi keinget berbagai hal yang berhubungan dengan benda yang aku pegang waktu packing tadi, hampir semuanya.  Dan itu cukup buat aku jadi sedih karena ngerasa akan ninggalin semua memory itu.

Bahkan hampir semua yang kulihat pun seakan mengingatkanku pada masa lalu. Yaa mungkin ini dirasain juga ya sama semua orang yang mau merantau dan meninggalkan keluarga? Iya mungkin. Dan meskipun aku agak sedih, aku tetep kekeh buat berangkat! Semoga aja misi-misi yang beberapa diantaranya udah ku tulis diatas bisa ku wujudkan disana. Dan aku bertekad untuk membuat orang tuaku (khususnya papahku) bangga. Kenapa harus papahku? Karena dia adalah satu-satunya orang yang memberi kepercayaan dan support ke aku waktu aku masih terpuruk karena memutuskan untuk mengambil jalan (profesi) yang aku pilih dan tekuni sekarang, dimana waktu itu semua orang termasuk keluarga, teman dan bahkan (mantan) pacarku  pun meragukan aku.

I will make you proud dad, I will..!!
Diposkan oleh Pandu Dryad 0

Rabu, 19 Februari 2014

Prepare To Jogjakardah! Part I

Home
Prepare To Jogjakardah! Part I - Hiyey akhirnya sebentar lagi aku bakal hijrah dari Pulau Dewata menuju kota Gudeg yang tidak lain dan tidak bukan adalah Jogjah! Sebenernya udah lama banget diriku ngidam mau ke sana, kira-kira sejak taun 2009 atau sekitar.. Bentar tak itung dulu.. 5 taunan! Yup, udah lama banget ya. Masih seger banget di ingatanku, waktu itu aku pengen kesana buat kuliah bareng temenku sebut saja d’dream. Dan motivasiku untuk bisa kesana bertambah ketika aku tau bahwa salah satu temen SMA yang aku taksir (aku biasa nyebut dia dengan kode nama d’bening) juga bakal kuliah di Jogja. Waah aku jadi ngebet banget waktu itu, sampai-sampai aku merengek ke ortuku buat kuliah di Jogja padahal aku tau kemampuan ortuku gak bisa memenuhi keinginanku.

FYI ya, itu pertama kalinya aku merengek minta sesuatu ke ortu karena sebelumnya aku gak pernah begitu alias gak pernah minta aneh-aneh. Mungkin karena perasaan yang begitu kuat kali ya, ingin sekali bersatu dengan d’bening itu #uhuk. Tapi apa daya, akupun gak bisa ikut ke sana karena keterbatasan orang tuaku. Tapi itu gak menyurutkan niatku! Aku berusaha nabung dari hasil kerjaku, meskipun akhirnya gagal maning dan gagal maning karena gajiku kekecilan. Wkwkwkwkwk
#ngenes.

Niatku untuk kesana tertahan setelah aku punya pacar (tapi sekarang udah jadi mantan kok) karena pacarku gak ngijinin aku buat kesana. Lagian waktu itu kan aku masih jadi karyawan, jadi yang aku seperti terikat dengan pekerjaan. Dan setelah putus ama pacarku itu, niatku buat kesana kembali muncul. Dan tetep, d’bening masih jadi alasan utama buatku untuk hijrah kesana. Hihihi ternyata aku belum bisa move on dari dia setelah 4 taun berlalu, padahal kita gak pernah pacaran loh.

Dan akhirnya sekarang aku memantabkan diri untuk hijrah kesana setelah keadaan memungkinkan. Oke, sebenernya ini keadaannya sedikit dipaksakan sih karena gak sesuai planning. Jadi rencananya aku kesana itu bawa bekel 6 jeti diluar biaya transportasi. Lhah tapi kok menjelang hari keberangkatan gak ada tanda-tanda duitku bakal sampe segitu, bahkan menipis dan nyaris habis karena kebodohanku keteledoranku. Jadi duit yang harusnya jadi bekel itu malah aku beliin hape bekas. Haduuuh sumpah aku khilaf! Jadi rencana hape bekas yang tipenya Sony Xperia SP itu kan mau ku jual lagi karena waktu itu orangnya jual murah ke aku. Dan karena ngiler ama harganya, yauda deh aku ambil aja. Tapi gobloknya, hape itu bukannya langsung ku jual lagi tapi malah ku utak atik. Walhasil hapenya mati karena gagal waktu percobaan flashing!
Xperia SP

Dibawalah ke tukang serpis dan untungnya bisa nyala lagi. Tapi ternyata goblok ku belum ilang juga loh pemirsah. Baru beberapa jam hapenya nyala udah ku utak atik lagi dan walhasil hapenya mati lagi dan kali ini mati total! Dua tukang serpis udah nyerah alias gak mampu buat sembuhin lagi. Dan kemaren udah aku bawa ke Sony Service Center dan katanya sekitar 5 sampe 7 hari lagi baru ada kabar. Waduh, itu berarti aku udah gak disini lagi donk? Yauda lah aku putuskan hape itu ku kasih papahku aja kalo udah selesai di service nanti, dan itu artinya bekelku buat ke Jogja berkurang sangat drastis sekarang! Tapi aku tetep kekeh buat berangkat meskipun bekelnya sangat-sangat memprihatinkan. Ya semoga aja sesampainya disana nanti rejekiku bisa lebih lancar dan aku bisa memenuhi kebutuhanku. Aamiin..

To be continued. . . Nih udah jadi lanjutannya
Diposkan oleh Pandu Dryad 0